STT ARASTAMAR WAMENA GELAR KULIAH UMUM: STRATEGI MEMBANGUN KOMUNIKASI AKTIF TERHADAP PESERTA DIDIK
Wamena, 11 Maret 2026 Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Wamena (STTA) kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan mutu akademik dan pengembangan kompetensi tenaga pendidik melalui pelaksanaan Kuliah Umum bertema "Strategi Membangun Komunikasi Aktif Terhadap Peserta Didik" yang berlangsung pada Rabu, 11 Maret 2026, di lingkungan kampus STTA Wamena, Papua Pegunungan. Kegiatan ini terselenggara atas kerja sama STTA dengan lembaga mitra LAMSPAK, dan dihadiri oleh para mahasiswa serta civitas akademika kampus.
Kuliah umum ini secara resmi dibuka oleh Wakil Ketua I Bidang Akademik, Dr. Edie Rante Tasak, M.M., yang dalam sambutan pembukaannya menekankan pentingnya penguasaan strategi komunikasi yang efektif sebagai salah satu pilar utama dalam proses pendidikan, terlebih dalam konteks pelayanan pendidikan di wilayah Papua Pegunungan yang memiliki keragaman latar belakang bahasa dan budaya peserta didik. Menurutnya, seorang pendidik yang mampu membangun komunikasi aktif bukan sekadar menyampaikan materi, melainkan membuka ruang bagi tumbuhnya pemikiran, relasi, dan pemahaman yang bermakna di dalam diri setiap peserta didik.
Narasumber utama dalam kegiatan ini adalah Anne-Marie van Driel, seorang praktisi dan pendidik berpengalaman yang telah lama berkecimpung dalam dunia pengembangan bahasa dan komunikasi di konteks pendidikan anak. Dengan gaya penyampaian yang interaktif dan berbasis pengalaman lapangan, Anne-Marie memaparkan tiga pilar utama dalam membangun komunikasi aktif di kelas, yakni: pertama, menciptakan lingkungan belajar yang kaya bahasa; kedua, memberikan kesempatan berbicara seluas-luasnya kepada peserta didik; dan ketiga, memberikan umpan balik yang konstruktif dan halus terhadap perkembangan bahasa mereka.
Dalam sesi pertama, Anne-Marie menjelaskan bahwa lingkungan kaya bahasa bukan hanya soal tersedianya buku dan media visual, melainkan tentang bagaimana seorang pendidik mampu menyesuaikan kosakata, topik, dan situasi belajar dengan dunia nyata yang dekat dengan kehidupan peserta didik. Ia menekankan bahwa kesalahan berbahasa anak bukanlah hambatan, melainkan pertanda keberanian mereka untuk mencoba sebuah proses yang justru harus disambut dengan kesabaran dan apresiasi oleh setiap guru. Konsep skrip permainan turut diperkenalkan sebagai metode konkret di mana guru mempersiapkan skenario bermain berbasis kosakata tertentu, lalu membiarkan peserta didik menghidupkannya secara mandiri dalam "sudut bermain" yang telah disiapkan.
Pada sesi kedua, para peserta diajak mendalami pentingnya memberi ruang bicara yang nyata bagi setiap anak melalui teknik-teknik terstruktur. Di antaranya adalah Teknik Balik dan Bicara (Turn and Talk, Teknik 43 dari Teach Like a Champion), di mana seluruh peserta didik diajak berdiskusi berpasangan secara serentak sehingga tidak ada yang sekadar menjadi pendengar pasif. Selain itu, Teknik Tarik (Teknik 17) diperkenalkan sebagai cara guru mendorong siswa naik ke tingkat berpikir yang lebih tinggi melalui pertanyaan lanjutan seperti "Mengapa?" dan "Bagaimana kamu tahu?" suatu pendekatan yang mendorong lahirnya tradisi berpikir kritis sejak dini.
Sesi ketiga menyentuh aspek umpan balik bahasa yang efektif. Anne-Marie menggaris bawahi pentingnya teknik memperbaiki secara halus, yakni guru tidak secara langsung mengoreksi kesalahan gramatikal peserta didik, melainkan merespons dengan mengulang kalimat yang benar secara alami dalam percakapan. Pendekatan ini terbukti lebih efektif dalam membangun kepercayaan diri anak dan mendorong mereka untuk terus berani berbicara. Ia juga menyoroti pentingnya menghargai bahasa ibu peserta didik sebagai fondasi yang justru memperkuat penguasaan bahasa nasional sebuah perspektif yang sangat relevan bagi konteks pendidikan di Papua Pegunungan.
Kuliah umum ini mendapat respons yang antusias dari para peserta. Selain sesi pemaparan, kegiatan juga diisi dengan latihan langsung, termasuk tugas kelompok merancang skrip permainan berbasis tema tertentu serta menyusun pertanyaan-pertanyaan HOTS (Higher Order Thinking Skills) berdasarkan cerita Alkitab sebuah integrasi yang memperkuat identitas pendidikan Kristen STTA dalam setiap aspek pedagogi.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan STTA dalam mempersiapkan calon-calon pendidik dan hamba Tuhan yang tidak hanya unggul secara teologis, tetapi juga kompeten dalam seni mendidik, berkomunikasi, dan melayani manusia secara utuh. Dengan semangat yang dibawa narasumber "Sabar itu indah" para peserta diharapkan pulang bukan hanya dengan pengetahuan baru, tetapi dengan komitmen baru untuk menjadi guru yang lebih hadir, lebih mendengar, dan lebih menghidupkan suara peserta didiknya.