Wamena, 13 Oktober 2026 — Ponsel pintar sudah jadi teman sehari-hari para pelajar di Lembah Baliem. Lewat benda kecil itu mereka belajar, bergaul, dan mencari hiburan. Lewat benda yang sama pula hoaks, perundungan siber, dan kebiasaan serba instan ikut masuk ke ruang kelas. Keadaan inilah yang mendorong Program Studi Teologi dan Program Studi Sosiologi Agama Sekolah Tinggi Teologi (STT) Arastamar Wamena menggelar Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) di SMK Yapesli Wamena, Kamis (15/10/2026). Sekitar 100 siswa-siswi dan guru hadir dalam kegiatan bertema pendidikan karakter, literasi digital, dan etika bermedia ini.
Kegiatan dibuka dengan sambutan Ketua Lembaga Penelitian, Pengembangan dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2kM) STT Arastamar Wamena, Ibu Verawati D. Samosir, S.E., M.Th., M.Pd. Ia menegaskan bahwa PKM adalah wujud nyata Tridharma Perguruan Tinggi. Menurutnya, kampus tidak cukup hanya mengajar di dalam ruang kuliah. Kampus juga perlu hadir dan berjalan bersama sekolah serta masyarakat dalam menjawab tantangan zaman. Di bawah kepemimpinan Ketua STT Arastamar Wamena, Dr. Sensius Amon Karlau, M.Th., M.Pd.K., STT Arastamar Wamena terus mendorong dosen dan mahasiswanya terlibat langsung dalam pembinaan generasi muda di Tanah Papua.
Karakter sebagai Perisai Utama Generasi Digital
Materi pertama dibawakan Kaprodi Teologi, Dr. Gideon Widiono, M.Pd.K., dengan judul “Pendidikan Karakter Era Digital: Panduan Nyata Membangun Karakter Siswa Berbasis Psikologi dan Literasi Digital.” Ia mengawali paparannya dengan pernyataan tegas: pendidikan karakter bukan sekadar syarat kelulusan, melainkan perisai utama bagi pelajar. Para siswa kini hidup di dua dunia sekaligus, yaitu dunia nyata dan dunia maya. Teknologi bergerak cepat dan sering berbenturan dengan emosi remaja yang masih labil. Karena itu, karakter menjadi pertahanan pertama sekaligus terakhir dalam menghadapi hoaks, cyberbullying, kecanduan gawai, dan pelanggaran privasi data.
Dr. Gideon kemudian mengajak peserta memahami dunia remaja dari sudut pandang psikologi. Pada usia ini siswa sedang mencari jati diri. Bagian otak yang mengatur emosi lebih aktif daripada bagian yang mengatur logika. Mereka juga sangat haus akan pengakuan teman sebaya dan mudah dihinggapi rasa takut tertinggal (FOMO). Dari sana ia memaparkan sebuah “matriks diagnosis” untuk mencari akar perilaku negatif di sekolah. Siswa yang malas belajar sering kali kekurangan dukungan keluarga atau belum punya tujuan hidup. Bahasa kasar di media sosial lahir dari emosi yang belum matang. Menyontek dengan bantuan AI dipicu oleh budaya serba instan. Sementara itu, kebiasaan bermain HP saat guru menerangkan tidak lepas dari algoritma media sosial yang memang dirancang untuk membuat orang ketagihan.
Bagi para guru yang hadir, pesannya terasa menyentuh: berhenti menceramahi, saatnya membimbing. Komunikasi satu arah, kebiasaan memberi cap “anak nakal” atau “malas”, dan nasihat yang hanya dihafalkan perlu diganti dengan dialog yang penuh empati, upaya mencari akar masalah tanpa menghakimi, serta pembiasaan nyata yang dipadukan dengan keterampilan digital. Ia menawarkan tiga langkah konkret bagi sekolah. Pertama, memahami siswa dan membangun kebiasaan positif lewat budaya 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun), “hening sejenak” sebelum pelajaran dimulai, dan kebiasaan cek fakta sebelum membagikan pesan di grup WhatsApp kelas. Kedua, menyisipkan lima modul literasi digital ke dalam pembelajaran, yaitu netiket, anti-hoaks, privasi data, pencegahan cyberbullying, dan etika penggunaan AI. Ketiga, mengubah teori menjadi karya nyata melalui Project-Based Learning, misalnya video kampanye anti-perundungan, infografis “Saring Sebelum Sharing”, atau podcast siswa tentang etika AI.
“Karakter yang kuat di era digital tidak lahir dari instruksi yang kaku, melainkan dari pendampingan yang penuh empati dan kolaborasi,” tegasnya. Ia menutup materinya dengan mengingatkan bahwa membentuk “Generasi Bijak Digital” adalah tanggung jawab bersama guru, orang tua, pimpinan sekolah, dan siswa itu sendiri.
Literasi Digital dan Etika Bermedia sebagai Pilar Karakter
Materi berikutnya disampaikan Kaprodi Sosiologi Agama, Mardi, S.Th., M.Pd., Gr., dengan judul “Literasi Digital dan Etika Bermedia sebagai Pilar Penguatan Karakter di Era Digital.” Ia membahas transformasi digital sebagai perubahan pola hidup masyarakat. Teknologi memudahkan komunikasi, pembelajaran, dan interaksi sosial. Namun di saat yang sama teknologi juga menuntut kecakapan dan tanggung jawab dari penggunanya. Media sosial memang mendekatkan yang jauh, tetapi juga bisa memicu salah paham, perundungan siber, bahkan konflik.
Bagian yang paling banyak menarik perhatian siswa adalah pembahasan tentang hoaks dan misinformasi. Mardi menjelaskan bahwa hoaks mudah menyebar karena rendahnya literasi digital, kebiasaan membaca terburu-buru, serta dorongan emosi dan prasangka. Akibatnya tidak kecil: reputasi seseorang bisa rusak, rasa saling percaya bisa runtuh, dan kerukunan masyarakat bisa terganggu. Pesan ini terasa sangat dekat dengan konteks Papua yang majemuk. Karena itu ia mengajak siswa membiasakan diri memeriksa sumber, membandingkan informasi dengan rujukan tepercaya, dan mewaspadai judul yang provokatif maupun gambar hasil manipulasi.
Ia juga menekankan etika berkomunikasi di media sosial: menghargai perbedaan pendapat tanpa menghina atau menyerang pribadi, menimbang dampak setiap unggahan, serta menghormati privasi dan martabat orang lain. “Karakter seseorang tercermin dari perilakunya di dunia digital,” ujarnya. Mardi menutup paparannya dengan sebuah pesan yang membekas: “Jadilah pengguna teknologi yang cerdas dalam berpikir, bijaksana dalam berbicara, kritis dalam menerima informasi, dan berintegritas dalam setiap tindakan. Sebab, teknologi membuat kita semakin terhubung, tetapi karakterlah yang menentukan bagaimana kita memperlakukan sesama.”
Suara Mahasiswa, Jembatan bagi Sesama Generasi Muda
Sesi berikutnya diisi oleh Telkius Kogoya S.Ap, dan Bernard Tatengkeng, mahasiswa Program Studi Teologi STT Arastamar Wamena. Usianya yang tidak terpaut jauh dari para peserta membuat suasana terasa lebih cair dan akrab. Bernard berbagi sudut pandang sebagai sesama anak muda yang setiap hari bergulat dengan godaan dunia digital. Ia mengajak para siswa menjadikan media sosial sebagai ruang untuk bertumbuh, berkarya, dan menyebarkan hal-hal yang baik, bukan sekadar tempat mengejar pengakuan. Keterlibatan mahasiswa dalam PKM ini sekaligus menjadi wadah bagi calon pelayan dan pendidik dari STT Arastamar Wamena untuk melatih kepekaan sosial dan kemampuan melayani masyarakat secara langsung.
Menanam Benih Generasi Bijak Digital di Lembah Baliem
Para siswa dan guru mengikuti kegiatan dengan antusias. Topik yang diangkat bersentuhan langsung dengan keseharian mereka, mulai dari grup WhatsApp kelas, konten TikTok, sampai penggunaan kecerdasan buatan untuk mengerjakan tugas. Bagi para guru, kegiatan ini memberi bekal pendekatan baru dalam mendampingi siswa. Bagi para siswa, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa kecakapan menggunakan teknologi harus berjalan seiring dengan kejujuran, empati, dan tanggung jawab.
Melalui PKM ini, Prodi Teologi dan Prodi Sosiologi Agama STT Arastamar Wamena berharap terjalin kemitraan yang berkelanjutan dengan SMK Yapesli Wamena, sehingga benih-benih karakter digital yang ditanam hari ini dapat terus dirawat di lingkungan sekolah. Sebab di tengah derasnya arus informasi, generasi muda Papua tidak hanya dituntut cakap teknologi, tetapi juga harus teguh dalam karakter dan iman.